Its better to Light the a Candle, than to Curse the Darkness.

Indonesia butuh pemimpin untuk melakukan perubahan. Inilah waktunya bagi pemuda Indonesia untuk membangun Indonesia dari keterpurukan. Semua bermula menjadi terang kecil yaitu diri kita sendiri. Menjadi bagian dari lilin lilin kecil di negri ini.

Indonesia sedang krisis kepemimpinan. Baik yang terjadi pada lapisan masyarakat atas sampai lapisan masyarakat bawah. Buruknya para pemimpin yang ada di lingkungan negri ini, membuat masalah – masalah bangsa seakan tak ada kata akhir. Bagai punduk merindukan bulan, itulah pribahasa yang dapat mencerminkan persoalan bangsa ini yang tak kunjung usai. Kerumitan persoalan yang multidimensi bukannya membuat para pemimpin kita semakin bersemangat untuk menyelesaikannya, tetapi terbuai oleh kenikmatan duniawi dan hasrat egois.

Negri kita merindukan sosok pemimpin dan pengubah keadaan (agent of change) seperti sang proklamator, Ir Soekarno. Tak ada kata menyerah, tak ada kata takut, tegas, namun sangat rendah hati. Sosok pemimpin yang dikagumi dunia pada jamannya. Sosok yang sangat dinantikan untuk menjawab persoalan bangsa ini. Dari segala kelebihan sang Proklamator, satu nilai yang mencirikan khas kepemimpinannya, yaitu memimpin dengan hati yang melayani. Melayani rakyat tanpa pamrih. Melayani Indonesia dengan segala perjuangan melawan penjajah. Dan bahkan melayani kita dengan kemerdekaan yang telah kita nikmati sekarang.

Negri ini bukanlah minim akan pemimpin yang melayani. Setiap pemimpin negara kita yang telah silih berganti, seluruhnya adalah pemimpin yang melayani. Para pemimpin bangsa kita yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dan memajukan bangsa adalah sebuah pelayanan yang luar biasa yang patut di banggakan.

Dan sekarang waktunya kita wahai para pemuda. Sebagai para penerus bangsa dan pemimpin negri ini di masa depan. Bumi pertiwi menunggu kita untuk bersuara dan bertindak sebagai pemimpin yang melayani. Melayani dengan hati yang tulus dan ikhlas, tanpa pamrih. Sudah sepantasnya Indonesia tersenyum lebar untuk kedua kalinya sejak kemerdekaan, atas pergerakan kita sebagai pemimpin- pemimpin masa depan yang siap menggemparkan dunia.

Sebelum kita membahas lebih jauh, saya akan memberikan sedikit rahasia kepada anda. Pertama, Negara Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). Tidak hanya itu saja, negara kita memiliki 3 pulau dari 6 pulau terbesar didunia. Diantaranya, Pulau Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Pulau Sumatera (473.606 km2) dan Pulau Papua (421.981 km2).

Kedua, kita mempunyai perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Ketiga, dari segi kekayaan binatang laut, Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species. Bahkan, akhir-akhir ini baru ditemukan ikan terkecil di dunia di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Keempat, kekayaan tumbuhan yang hidup di laut Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Terumbu karang (coral reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).

 

“Bukan lautan, hanya kolam susu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu ditanam jadi tanaman“. Tak salah grup band legenda Koes Plus menciptakan lirik lagu spserti itu, karena memang Indonesia sangat kaya dan subur. Dan masih banyak lagi kekayaan alam kita yang luar biasa baik yang telah diketahui ataupun belum diketahui.

Akan tetapi, pertanyaanya sekarang adalah, dengan segala kekayaan dan  potensi alam yang dimiliki negri ini, mengapa rakyat Indonesia masih banyak yang hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan?  Mengapa kita tidak memanfaatkan sumber daya alam kita yang sangat luar biasa ini? Mengapa pemerintah kita tidak memanfaatkan potensi alam sebagai “penyatu” rakyat Indonesia ? Inilah kunci dari kepemimpinan dari kita itu sendiri. Dengan sikap kepemimpinan yang benar, kita bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk kesejahteraan kita bersama.

Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita hanya menjadi penonton atas kekayaan alam kita yang justru dinikmati oleh pihak asing? Atau kita ingin menjadi seorang pemimpin yang inovatif dan menjadi indikator atas pesatnya kemajuan teknologi dan sebagainya?  Jawaban ada ditangan kita semua kawan. Saya akan mencoba untuk membuka pola pikir kita tentang kepemimpinan yang melayani,

Pertama, untuk bisa menjadi pemimpin yang melayani dengan baik, langkah pertama adalah haruslah kita menjadi pemimpin atas diri kita sendiri dahulu. Sebelum kita memimpin orang lain di lingkungan sekitar kita, ada baiknya kita mengatur diri sendiri dahulu dengan tepat. Kebanyakan dari kita malah melakukan yang terbalik. Kita sering memimpin orang lain , padahal diri kita sendiri masih jauh dari kata baik.

Contoh konkritnya, menjadi pemimpin atas diri sendiri yang baik adalah yang mampu mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Mampu mengatur jadwal kegiatan sehari-hari dengan disiplin. Mampu mengambil keputusan pribadi untuk masa depan sendiri. Mampu hidup tanpa bergantung pada orang lain, atau bahkan hidup tanpa harus ditanggung oleh orang tua kita lagi. Jika hidup kita sendiri sudah bisa kita kontrol dengan baik, maka kita akan lebih mudah untuk bisa memimpin orang lain.

Untuk bisa mempertahankan kepemimpinan atas diri kita setiap hari, kita wajib untuk berkembang setiap saat. Berkembang dalam segi mental, ilmu, jasmani, dan rohani. Mampu mengembangkan diri dengan tekun belajar, berikir positif, dan selalu optimis akan selalu mengasah jiwa kepemimpinan kita menjadi lebih baik. Menjaga kesehatan dan terus tak pernah berhenti belajar akan membuat kita selalu berkembang. Dan tak lupa juga menjaga hubungan kita dengan Sang Pencipta akan membuat hati dan pikiran kita damai dan tetap bangkit di tengah masalah dunia.

Kedua, jika kita sudah mengerti akan memimpin diri sendiri, maka kita bisa lanjut dengan memimpin orang lain. Saya akan buka rahasia kepemimpinan. Menjadi pemimpin bukanlah suatu bakat. Kita semua bisa menjadi pemimpin, khususnya memimpin orang lain. Asal dengan latihan yang konsisten dan belajar terus untuk perkembangan diri, kita bisa menjadi pemimpin yang hebat.

Saya mengambil kutipan dari buku kepemimpinan terlaris karya John Maxwell, Beliau mengatakan demikian .Apakah bedanya pemimpin yang baik dan yang buruk? Jawabannya sebenarnya simpel saja. Pemimpin yang buruk atau gagal selalu berkata demikian : “Lakukan itu! Cepat laksanakan! “ , yang mempunyai kiasan menyuruh dan bertingkah layaknya seperti boss. Akan tetapi pemimpin yang baik atau sukses selalu mengatakan demikian : “ Mari kita lakukan bersama-sama” . Ini mengindikasikan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau terjun langsung berkerja bersama-sama dengan bawahannya untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk melakukan hal itu, kita sebagai pemimpin haruslah mempunyai pengaruh. Ya, setiap pemimpin yang hebat mempunyai pengaruh. Untuk bisa mempengaruhi orang, lagi-lagi itu bukanlah suatu bakat, tapi itu adalah hal yang dilatih dengan benar. Idealnya , pemimpin haruslah menjadi termostat (yang mempengaruhi sekitarnya), bukan menjadi termometer (yang dipengaruhi sekitarnya). Dimulai dengan diri sendiri dahulu yang benar, lalu memimpin orang lain dan sebagai pelayan bagi bawahannya. Sedikit janggal memang didengar, tetapi begitulah para pemimpin dunia bisa menjadi hebat karena mereka tahu bagaimana melayani bawahan mereka.

Memimpin orang lain dimulai dari memipin keluarga kita sendiri. Memimpin keluarga bukan harus kita menjadi seorang ayah atau ibu dahulu, akan tetapi menjadi sosok teladan dan inspirasi yang mampu mengubah keluarga kita menjadi lebih baik. Dengan menjadi pemimpin dan menjadi sosok teladan di keluarga, kita akan mendapatkan kemudahan dan doa restu yang baik untuk mencapai pemimpin bangsa yang berhasil.

Dari keluarga, kita lanjut menjadi pemimpin di lingkungan kita masing-masing. Baik itu di kampus, kompleks rumah, organisasi, tempat ibadah, komunitas, dan lain-lain. Menjadi orang yang mempunyai jalan yang benar dan hati yang tulus melayani orang lain akan membawa kita menuju sosok pemimpin yang ideal. Dengan begitu, dukungan dari mereka jua-lah para teman-teman dan kerabat yang membuat kita semakin yakin untuk menjadi agent of change bagi negri kita ini.

Inilah inti dari ide artikel ini. Setelah kita menguak apa sebenarnya kepemimpina yang melayani itu, akan tetapi akan terasa sangat berat jika kita hanya sendiri. Maksudnya adalah untuk membangun bangsa ini dan menyelesaikan masalahnya yang begitu kompleks, bukanlah semudah membalik telapak tangan, Kita butuh dukungan dan kontribusi nyata dari semua elemen masyarakat.

Khususnya saya ambil dari elemen masyarakat yang lekat dengan kita, yaitu para pemuda Indonesia. Saya menagajak para Pemuda Indonesia untuk bersatu dan berserikat dalam komunitas atau organisasi atau komunitas positif yang mendukung kebangkitan bangsa yang lebih baik. Sekarang sudah banyak sekali organisasi atau komunitas yang bergerak di dalam pergerakan pemuda untuk bangsa kita. Contohnya adalah Forum Indonesia, Indonesia Unite, Indonesian Future Ledears, Bantu Indonesia Asosiasi, Indonesia Mengajar, dan lain-lain.

Indonesia rindu untuk melihat pergerakan pemudanya. Bermula dari pergerakan Sumpah Pemuda. hingga pergerakan pemuda dalam memberantas rezim orde baru dan mengubah haluan pergerakan negara pada tahun 1998 adalah bukti nyata. Pemuda sebagai elemen inti negri ini haruslah disadari oleh setiap pemuda Indonesia.

Saya teringat dengan kata-kata dari Bung Karno yang sangat terkenal, yaitu : “ Berikan saya beberapa pemuda, dan saya akan mengubah dunia! “ . Ini membuktikkan betapa kuat dan hebatnya karakter seorang pemuda Indonesia yang dapat mengubah segalanya menjadi luar biasa. Dan berpijak dari kata mutiara beliau, saya mengajak seluruh pemuda Indonesia bersatu dalam organisasi atau komunitas positif yang membangun bangsa. Bukan hanya ikut terlibat, tetapi menjadi pendiri atau koordinator dari organasisasi atau komunitas tersebut adalah sesuatu yang sangat baik.

Indonesia sudah lama tidur lelap. Pemuda Indonesia sudah lama tidak bersuara. Seakan-akan hanya menjadi penonton panggung sandiwara para koruptor negri ini. Bahkan rakyat kecil yang menjadi korban dan boneka para penjahat negri ini juga tidak kita pedulikan. Saatnya para pemuda bangun dan bergerak untuk mengubah keadaan. Inilah waktunya kita bangkit dari keterpurukan.

Untuk itu, kita harus mempunyai visi. Visi yang jelas dan sama diantara pemuda., Visi yang mengantarkan kita pada pintu kejayan kita. Visi itu adalah suatu karakter di semua pemuda Indonesia, yaitu : Kita ada untuk melayani. Ya, kita memimpin bukan untuk menyuruh-nyuruh tapi mengulurkan tangan., Kita ada bukan untuk memberontak tanpa logika tapi berkerja cerdas secara bersama-sama. Kita ada bukan untuk dilayani oleh rakyat, tapi kita yang melayani rakyat.

Tak usah kita memikirkan wakil rakyat kita yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Fokus pada tujuan kita membangun Indonesia lebih baik. Ibu Pertiwi menunggu keberhasilan kita di ujung sana. Banyak yang bisa kita lakukan. Pertama, membangun fondasi bangsa lewat peningkatan pendidikan. Menjadi volunteer pengajar anak-anak Indonesia yang masih minim pengetahuan adalah sesuatu yang tidak tabu. Mengaplikasikan ilmu-ilmu kita yang dipelajari di bangku kuliah akan lebih berguna apabila langsung kita praktekkan demi membantu saudara-saudara kita.

Jika akarnya sudah kuat, maka kedepannya kita tinggal memetik buah yang manis dari pohon kita. Jika hulu-nya sudah benar, maka ke hilir-nya juga lebih mudah lagi. Kepala kita dahulu yang diperbaiki, baru ke anggota tubuh yang di bawah lainnya. Fondasi dalam pendidikan inilah yang kita bangun hai para pemuda Indonesia. Dengan begitu bukanlah mustahil masa depan teknologi bisa beralih ke negara kita sebagai pusatnya.

Kedua, mau menjadi penyambung lidah rakyat adalah suatu hal melayani juga. Kita bukan hanya memiliki rasa kasihan terhadap saudara kita yang kurang beruntung. Tetapi kita berani bersuara, bertindak, dan mengubah keadaan bahkan mengubah kebijakan sang pemerintah. Pemimpin adalah sosok yang berani dan pantang menyerah, jika yang dia lakukan itu adalah sesuatu untuk kebenaran orang-orang di sekitarnya yang lemah. Kita juga bisa memanfaatkan organisasi atau komunitas kita sebagai penyambung lidah rakyat.

Saya kembali teringat dengan sosok pemimpin sejati Indonesia, Bung Karno, yang tak kenal takut kepada pesaingnya. Bahkan dia pernah mengatakan : “Go to hell! “ pada negara adikuasa , USA ketika itu. Begitu juga nilai itu harus terbenam dalam karakter kita. Sikap melayani yang tak tanggung-tanggung dalam membela kebenaran. Jangan menjadi pemimpin yang lembek dan takut mengambil keputusan yang benar.

Dan pada akhirnya, pemimpin yang baik dan melayani adalah pemimpin yang mau mencetak pemimpin hebat lainnya. Tidak egois dan mau menularkan kehebatannya pada orang lain. Kita sebagai pemimpin harus membagi ilmu, semangat, dan pengalaman kita kepada orang lain, sehingga makin banyak pemimpin hebat di masa depan. Pencapaian Indonesia yang lebih baik dan berkembang akan lebih cepat jika kita bisa membuat banyak pemimpin yang berkualitas.

Jika Indonesia bisa tersenyum melihat kita berhasil bersama-sama membangun negri ini, bukan tidak mungkin kita bisa naik ke tahapan selanjutnya. Tahapan akhir yaitu kita para Pemuda Indonesia yang mampu menjadi pemimpin dunia dan kancah internasional  di bidang kita masing-masing.  Hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil kawan. Asal kita mempunyai satu fondasi karakter, yaitu kita ada untuk melayani mereka dengan pergerakan kita dalam perkumpulan atau organisasi yang menunjang perkembangan bangsa.

Solusi – solusi di atas hanya menjadi wacana semata, apabila tanpa dilakukan. Maka dari itu, sebagai pemuda Indonesia, sebagai penerus bangsa yang harus membawa perubahan yang signifikan bagi masa depan negri ini, kita selayaknya bersatu bersama – sama untuk mencapai Indonesia yang lebih baik. Berawal dari pendahulu kita para pemuda bangsa yang telah menorehkan tinta emas pada tahun 1928 lewat Sumpah Pemuda, kita selayaknya meneruskan amanat dan semangat tersebut.

Dalan sejarah Indonesia, pemuda banyak mengambil peran penting. Dimulai dari Sumpah Pemuda pada tahun 1928 sebagai wujud rasa nasionalisme persatuan dan kesatuan Pemuda Indonesia, lalu dilanjutkan dengan tumbangnya kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahun 1997 yang tak lepas dari peran besar para pemuda (mahasiswa), dan sekarang kita diingatkan kembali untuk tidak hanya menjadi penonton “panggung sandiwara” di negri ini, tapi menjadi pengubah keadaan dan penentu masa depan Indonesia selanjutanya.

Kalau  boleh mengambil pepatah orang bijak, lebih baik melakukan satu aksi dari pada seribu opini tanpa aksi. Letak geografis pulau – pulau kita yang dibatasi oleh lautan, tidak seharusnya kita menganggap itu sebagai perbedaan, karena kita adalah satu! Bangsa Indonesia. Kita bertanah air satu, Tanah air Indonesia! Kita berbahasa satu, Bahasa Indonesia! Walaupun berbeda – beda tetapi kita tetap satu jua. Seperti judul artikel ini, lebih baik menyalakan lilin, daripada hanya mengutuki kegelapan. Bukan hanya diberi penerangan oleh lilin, tapi juga memberikan dan melanjutkan penerangan lilin itu kepada lilin lilin lain yang sedang mati.

BANGGA MENJADI PEMUDA INDONESIA!

BERAT SAMA DIJINJING, RINGAN SAMA DIPIKUL!

BERSAMA KITA MEMBANGUN INDONESIA.

Jaya Indonesia-ku! Kami tidak akan berhenti berlari, sampai dunia tersenyum pada Indonesia. Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under tips and trick

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s