Pemuda dalam Panggung Sandiwara

Indonesia. Indonesia bukanlah negara penghasil artis atau aktor sekelas Holywood. Indonesia juga bukanlah penghasil sumber daya manusia yang mampu memenangkan penghargaan Grammy Awards. Tapi alangkah lucunya negri ini, ternyata kita mampu menghasilkan aktor dan artis yang pandai memerankan berbagai peran. Tentunya peran-peran tersebut tidaklah mudah. Peran yang saya maksud adalah peran dalam ‘panggung sandiwara’ politik Indonesia.

Image

Masih lekat di ingatan kita banyak kader-kader suatu partai politik yang dengan lantang menyuarakan anti korupsi atau STOP pada korupsi. Mungkin awalnya terlihat seperti bersih, tetapi apa yang terjadi sekarang? Banyak kader-kader partai tersebut yang terkena kasus korupsi, proyek wisma atlet, dikeluarkan secara sepihak, mundur dari DPR, mundur dari partainya, dan lain lain. Semuanya berbalik keadaan dan kita akhirnya tahu bahwa itu semua adalah sandiwara

Faktanya, arus politik sekarang mengarah kepada politik pencitraan dimana para politisi berlomba lomba untuk mencari simpati rakyat atau istilahnya adalah merakyat. Contoh riilnya adalah ketika beberapa waktu lalu ketika terjadi banjir di Jakarta dan sekitarnya. Presiden kita mengambil tindakan untuk turun ke jalan, survei langsung ke tempat banjir dan melakukan ‘blusukan’. Padahal ketika banjir tahun-tahun sebelumnya, sang pemimpjn bangsa belum pernah melakukan hal seperti ini.  Terkesan hal ini hanya untuk pencitraan diri dan mengikuti tren yang dipopulerkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Ini mengindikasikan bahwa pemimpin kita juga bisa menjadi seorang pameran sandiwara. Pemimpin yang memerankan peran yang sebenarnya bukanlah jati dirinya. Ini menjadi pelajaran bagi kita, terutama pemuda untuk tidak jatuh kedalam lubang yang sama. Pemuda adalah pemimpin bangsa masa depan. Sudah seharusnya sejak muda kita dilatih dan dibina untuk mempunyai integritas dan jati diri. Pemuda dibentuk untuk menjadi pemimpin yang mampu menciptakan gaya kepimimpinan sendiri, tanpa harus mengikuti gaya kepemimpinan orang lain.

Lalu, apakah sebaiknya pemuda tidak perlu terjun dalam dunia politik? Memang politik sekarang identik dengan hal yang berbau negatif. Tetapi bukan berarti kita harus meninggalkannya. Pemuda sebagai komponen penting bangsa ini juga harusnya turut dalam mendukung pembangunan bangsa di bidang politik. Tentunya dengan porsi dan peran yang menyesuaikan. Ini juga menjadi pelajaran bagi kaum pemuda agar sadar dan kritis bahwa apa yang terjadi disekitar kita, khususnya di pemerintahan tidak selalu benar dan bersih. Perlu adanya sikap kritis dan simpatik agar kita tahu langkah apa yang harus kita lakukan kedepan agar dapat mencapai Indonesia yang lebih baik.

Ibaratnya, Pemuda hari ini seperti sebuah kertas putih. Siap untuk ditulis apa saja. Jika ditulis dengan kata-kata yang salah, maka kertas putih itu akan menghasilkan kertas yang jelek dan tidak bisa bermanfaat bagi orang lain. Akan tetapi, jika kertas ditulis dengan kata-kata bagus, maka tulisannya pun akan menjadi manfaat dan berpengaruh positif bagi orang lain.

Image

Pemuda hari ini menurut saya sedikit banyak memainkan peran di kancah politik Indonesia. Ketika Pemilu DKI Jakarta dan Pemilu Jawa Barat beberapa waktu lalu, para  pemuda kita turut memberikan andil. Beberapa pemuda membuat aksi kampanye dengan video kreatif, jaringan social seperti facebook dan twitter. Ini membuktikan bahwa para pemuda mampu memberikan kontribusi yang efektif dalam memenangkan pilkada. Terbukti pasangan Jokowi-Ahok memenangkan Pilkada DKI Jakarta salah satunya karena kontribusi dan ide yang kreatif dari tim sukses yang kebanyakan adalah pemuda.

Dalam sejarah Indonesia, pemuda banyak mengambil peran penting. Dimulai dari Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Sumpah Pemuda sebagai wujud persatuan dan kesatuan Pemuda Indonesia yang luar biasa. Lalu dilanjutkan dengan tumbangnya kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahun 1997 yang tak lepas dari peran besar para pemuda (mahasiswa).

Tidak hanya itu, saya ambil contoh nyata seorang pemuda yang mampu eksis di dunia politik internasional. Namanya adalah Julia Bonk[1]. Politikus jelita asal Jerman itu pada usia 18 tahun sudah mejadi anggota parlemen. Julia Bonk adalah contoh salah satu politikus muda pantas buat dijadikan teladan remaja masa kini. Dia mengawali karir politiknya sejak belia. Sejak usia 14 tahun Julia dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Siswa Kota Dresden. Di saat yang bersamaan, gadis belia itu juga menjabat wakil juru bicara Dewan Siswa Negara Bagian Saxony, Jerman. Saat menginjak usia 18 tahun, Julia mendaftarkan diri masuk menjadi anggota parlemen Negara Bagian Saxony. Dia menjadi anggota dewan perwakilan rakyat termuda di Jerman. Bonk bisa menjadi teladan bagi para remaja Indonesia agar jangan takut dengan dunia politik Indonesia dan banyak hal positif yang bisa kita lakukan melalui jalur politik.

Bukan hanya dari dunia Internasional, dari dalam negri kita juga mempunyai tokoh yang patut dijadikan teladan, yaitu Ir. Soekarno. Presiden pertama RI ini telah mengasah jiwa kepemimpinan dan politiknya sejak masih muda. Ketika berkuliah di Bandung dulu beliau sering mengikuti organisasi pergerakan pemuda dalam misi pergerakan mengusir penjajah. Bahkan, di kosan dia sering latihan ber-orasi dan berpidato sampai pagi, sehingga menggangu jam istirahat teman-temannya. Ir. Soekarno berjuang dan belajar  sense of politic dengan gigih dari usia yang sangat belia. Ir Soekarno sadar pemuda, terutama remaja mepunyai kekuatan yang sangat besar untuk membangun bangsa ke depannya. Tidak heran jika di salah satu pidatonya yang terkenal, beliau mengungkapkan dapat mengguncang dunia hanya dengan beberapa pemuda saja.

Image

Lalu langkah kongkrit yang dapat kita lakukan untuk dapat berkontribusi bagi negara ini? Pertama, aktif dalam organisasi pergerakan pemuda. Organisasi pemuda yang dimaksud adalah organisasi yang memberdayakan pemuda untuk kemajuan bangsa, membina pemuda dalam forum-forum diskusi yang menambah wawasan, melatih pemuda dalam kepemimpinan, merangsang pemuda untuk bisa mengkritisi realita yang ada di sekitar kita, dan sebagainya. Banyak organisasi seperti ini, diantaranya HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), FIM (Forum Indonesia Muda), dan lain-lain.

Kedua, tidak hanya di organisasi pergerakan pemuda, kamu juga bisa mengikuti organisasi yang mampu mengembangkan potensi kamu. Misalkan, mengembangkan keterampilan dalam public speaking, ber-orasi, berpidato, berkerja sama dalam sebuah tim, memimpin rapat, ber-negosiasi, dan lain-lain. Keterampilan tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia perpolitikan kelak. Contoh organisasi ini adalah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), Himpunan Kampus, HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), dan lain-lain.

Ketika seorang pemuda mengikuti organisasi kepemudaan yang positif, maka akan menguatkan idealisme untuk berbakti pada bangsa dan negara. Pola pikir mereka diubah dari hanya mementingkan perut dan berorientasi pada uang (money oriented), menjadi fokus untuk membantu orang banyak untuk kesejahteraan bersama (welfare oriented). Pemuda dengan pola pikir seperti ini yang diperlukan untuk memimpin bangsa ini kelak.

Terakhir, mulai latih sense of leadership kamu dari sesuatu yang sederhana. Mulai dari diri kamu sendiri yang paling dekat dengan kamu., yaitu di lingkungan keluarga atau di rumah/kosan. Politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu polis yang artinya kota atau negara, yang kemudian muncul kata-kata polities yang artinya warga negara dan kata politikos yang artinya kewarganegaraan. Politik didifinisikan sebagai proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.[2] Jika umumnya berpolitik dalam ruang lingkup negara, sekarang kamu coba alihkan dalam ruang lingkup yang lebih kecil, yaitu pada diri kamu sendiri, Pimpin diri kamu sendiri, pecahkan masalah sendiri, latih diri untuk tidak mudah frustasi ketika gagal, dan biasakan buat keputusan yang baik untuk masa depanmu. Ketika kita bisa memimpin diri sendiri dengan benar, maka kita juga akan lebih mudah memimpin orang lain.

Teman teman pasti tahu salah satu penggalan lirik lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Salah satu liriknya adalah, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Mengapa harus bangun jiwa dulu yang pertama lalu bangun badan?? Itu artinya kita sebagai calon pemimpin bangsa haruslah membangun jiwa, karakter, dan sikap kita dahulu dengan benar. Jika jiwa kita sudah baik, barulah badan yang kita bangun.

Apa yang dicari oleh pemimpin kita sekarang? Uang? Ketenaran? Penghargaan? Citra? Toh ibarat sebuah panggung sandiwara, ketika drama/sandiwara berakhir, para pemeran (aktris dan aktor) akan kembali lagi ke sifat dan karakter aslinya. Begitu juga dengan para pemimpin dan politisi kita, mereka tidak akan bisa berlama-lama dengan peran mereka dan akan kembali kepada sifat aslinya. Kita sebagai rakyat dan penonton panggung sandiwara politik ini akan sadar mana pemimpin yang berkualitas, mana pemimpin yang hanya bersandiwara.

Jadi kalau sudah begini, mengapa kita harus bersandiwara?? 🙂

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under tips and trick

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s