Agama Boleh Beda, tapi Rambut Sama Hitam

Dahulu, saya pernah berkesempatan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negri (SMA Negri). Banyak pelajaran yang saya dapat dari sekolah tersebut baik dari akademis atau non akademis. Salah satunya adalah saya belajar tentang keanekaragaman. Ada banyak siswa-siswa yang memiliki latar belakang, suku dan agama yang berbeda di sekolah negri tersebut. Mulai dari siswa beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindhu atau Budha masuk ke dalam satu lingkungan. Pertama-tama memang  tidak nyaman karena ini merupakan hal baru bagi saya. Hal ini dikarenakan ketika di SMP swasta Katolik dulu, saya biasanya menghadapi teman-teman yang memiliki suku dan agama relatif sama dengan saya.

Image

 

Saya belajar secara langsung makna Bhinekka Tunggal Ika di sekolah tersebut, walaupun dalam konteks sederhana tentunya. Contoh riilnya ketika saya harus menghormati teman yang harus melakukan ibadah setiap hari Jumat, tidak melakukan sentuhan langsung ketika bersalaman dengan beberapa teman wanita tertentu, menghargai ketika ada teman yang melakukan doa sebelum makan,  dan mengijinkan teman ketika hendak melakukan shalat 5 waktu. Dari kejadian tersebut, sikap toleransi saya mulai tumbuh.

Sebelumnya, saya hampir tidak pernah mau bersosialisasi dengan orang yang berbeda agama, akan tetapi mau tidak mau saya harus bersosialisasi dengan semua orang pada waktu itu. Alhasil, Saya mempunyai banyak sahabat dari orang yang berbeda dengan saya. Dari situ juga kita belajar bahwa sesuatu yang berbeda ketika disatukan pun bisa menjadi indah. Kehidupan yang berbeda itu malah membuat kita menjadi terbiasa dan kita semakin menyadari bahwa hidup di Indonesia memang  hidup dengan perbedaan.

Image

Terkadang pikiran saya terusik jauh melihat satu negara yang berlandaskan pada satu agama. Misalnya ketika saya melihat negara Vatikan dimana negara tersebut mempunyai penduduk 100%  pemeluk agama Katolik[1]. Bisakah mereka mengerti akan indahnya perbedaan ketika teman di samping mereka itu berbeda? Bisakah mereka mengerti betapa hangatnya ketika membantu orang yang benar-benar berbeda dengan kita? Dapatkah mereka merasakan indahnya ketika kita bisa berpegangan tangan membangun negara secara bersama-sama, sedangkan dari latar belakang saja berbeda? Selain vatikan, negara lainnya yang sejenis adalah Arab Saudi yang hampir seluruhnya adalah pemeluk agama Islam. Dapatkah teman-teman berfikir bahwa kita dilahirkan di Indonesia karena merupakan anugerah? Karena kita dilahirkan di tempat yang yang memiliki keanekaragaman dan kita bisa belajar banyak di negri ini.

Akan tetapi, di Indonesia, agama sering mengkotak-kotakan para pemuda dan membuat tembok besar diantara para pemuda. Agama menjadi jurang pemisah yang membuat jarak antar pemuda semakin lebar., Tidak ada tangan erat yang menyatu. Sebenarnya, agama bukan membicarakan tentang siapa yang menang dan kalah. Agama bukan membicarakan kamu dan saya. Agama bukan membicarakan tentang hitam dan putih. Agama dapat menjadi penyatu bangsa.

Masi lekat di ingatan kita bagaimana perang yang terjadi di Poso karena suatu perbedaan, Mereka melakukan pembunuhan kepada orang yang berbeda agama dengan mereka. Padahal jika ditelusuri, mereka berasal dari rumpun yang sama dan nenek moyang mereka adalah satu. Tapi sekarang jamannnya sudah berbeda. Sekarang sudah era teknologi, bukan lagi di jaman barbar dimana saling bunuh untuk bersaing. Sekarang jamannya bersaing dengan otak dan kemampuan. Bersaing dengan otak bukan otot.

Image

Jika kita melihat sejarah bangsa ini, Sumpah Pemuda adalah contoh nyata bahwa perbedaan bukan hambatan bagi para pemuda.  Sumpah Pemuda adalah suatu bukti otentik bahwa bangsa Indonesia dilahirkan. Sumpah Pemuda menyatukan seluruh pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai suku, ras, dan agama. Apakah masih ada semangat Sumpah Pemuda pada jaman sekarang? Tentu masih ada.

Di jaman sekarang, salah satu fenomena yang paling menarik dari kenaekaragaman ini adalah jika kita melihat timnas sepakbola kita. Kesebelas pemain yang mempunyai latar belakang, agama, ras, suku yang berbeda-beda akan tetapi semua berjuang bersama mengharumkan nama Indonesia. Bambang Pamungkas, orang jawa beragama Islam berduet dengan Boas Salossa, orang Papua beragama Kristen. I Made orang Bali beragama Hindhu berkerja sama dengan Nova Ariyanto, orang Surabaya beragama Katolik. Bahkan pemain-pemain keturunan seperti Irfan Bachdim dan Diego Michels juga turut berjuang mempertahankan kejayaan negara.

Image

Agama boleh beda. Kampung boleh beda. Tapi rambut sama sama hitam. Rambut disini maksudnya adalah apa yang ada di bawah rambut, yaitu pola pikir kita. Pola pikir yang sama berjuang2 mengharumkan nama bangsa. Jiwa yang penuh semangat yang ditandai dengan simbol Garuda di dada para pemain.

Musuh utama kita yang sebenarnya adalah bukan yang berbeda dengan kita, akan tetapi orang-orang luar yang ingin kita mengalami perpecahan. Mereka adalah provokator yang tidak ingin melihat kita bersatu dan melihat bangsa ini maju. Mereka hanya ingin melihat kepentingan golongannya saja yang maju. Masih ingat strategi Belanda yang memecah belah kita dengan sistem adu domba? Itu yang dilakukan oleh para provokator sekarang.

Kata orang bijak, orang-orang Indonesia itu kaki sudah di mobil, tapi kepala masih di pedati. Banyak yang sudah memiliki harta kekayaan dan mempunyai gaya hidup yang tinggi, tapi pola pikirnya masih terbelakang. Kita sering kali berfikir  hanya untuk kesenangan pribadi dan berfikir pendek. Jika dikaitkan dalam konteks keagamaan, karena sering kali kita menjunjung tinggi loyalitas akan agama kita, malah dimanfaatkan oleh pihak provokator. Kita sering diadu domba oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah kita. Hal ini yang perlu kita perhatikan, terutama bagi pemuda para penerus bangsa.

Lalu apa sekarang peran pemuda? Pertama, mulai dari hal kecil di sekitarmu.. Coba aktif dalam organisasi pergerakan pemuda. Organisasi pemuda yang dimaksud adalah organisasi yang memberdayakan pemuda untuk kemajuan bangsa, membina pemuda dalam forum-forum diskusi yang menambah wawasan, melatih pemuda dalam kepemimpinan, merangsang pemuda untuk bisa mengkritisi realita yang ada di sekitar kita, termasuk dalam konteks kehidupan antar umat beragama. Banyak organisasi seperti ini, diantaranya HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), FIM (Forum Indonesia Muda), dan lain-lain.

Kedua, jalin dialog lintas agama yang intensif. Tapi dialog ini tidak dilakukan oleh para Ulama atau Pemuka Agama saja, tapi dilakukan oleh pemuda Bangsa Indonesia sendiri sebagai penerus bangsa. Kebiasaan ini yang harus dimulai dalam kehidupan bermasyarakat.

Dan yang terakhir, jadikan kehidupan dalam perbedaan menjadi gaya hidup/ life style kita. Coba untuk memperluas pergaulan dengan teman yang berbeda dengan kita. Berbeda yang dimaksud adalah berbeda agama atau berbeda suku dengan kita. Ketika kita berkomunikasi dengan mereka, kita akan semakin tahu dan mengerti apa arti perbedaan diantara pemuda Indonesia. Sekaligus menjadikan perbedaan itu menjadi penyatu diantara pemuda Indonesia untuk membangun negri ini kearah yang lebih baik. Terima kasih.

 Image

Oleh : Erifson Jenando

Fakultas Ekonomi, Universitas Parahyangan Bandung

Optimist | Plegmatist | Realistis

www.berfikirliar.wordpress.com

@erifson | erifsonjenando@gmail.com

 
Iklan

2 Komentar

Filed under tips and trick

2 responses to “Agama Boleh Beda, tapi Rambut Sama Hitam

  1. postingan kereeeeeeen…… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s